oleh

Telatah Ultah

-Opini-46 views

ANAMABSNEWS.COM – Ultah selalu dirayakan dengan berbagai cara, kerap kali itu dilakukan dengan acara sakral yang penuh makna historikal, kekal abadi dalam ingatan. Agar tidak terkesan cuma jadi seremonial belaka, tentu akan lebih baik dievaluasi dalam perjalanan waktu dengan berbagai peristiwa paling tidak dalam jangka waktu 1 tahun terakhir, usia yang sudah dilewati itu ternyata faktanya tidak lagi muda, bahkan tergolong menjelang dewasa dan tentu tidak berapa lama kemudian akan menjadi tua. Jangan sampai tua belum, muda terlampau. Seharusnya jadi tua tua kelapa, makin tua makin berminyak.

Kontempelasi dan evaluasi tetap relevan terhadap catatan kejadian negatif, agar dapat ditransmisikan dan ditransformasikan menjadi aura positif. Belajar dari kesalahan-kesalahan/kegagalan lalu bukan sikap yang salah, melainkan dapat menjadi proses metamorfosis agar tidak terulang lagi kesalahan/kegagalan yang sama. Berani belajar dari kegagalan agar tidak jadi produk gagal berikutnya. Ada baiknya kita baca buku BERANI GAGAL karya PS LIM (penulis negeri Jiran, Malaysia).

Bagaimana pula seharusnya ultah suatu daerah/kabupaten? Terlebih terhadap kabupaten yang belum maju, masih berproses mengejar ketertinggalannya dalam berbagai bidang, jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Ultah daerah itu bukan sekedar acara seremonial rutin belaka yang terkesan kegiatan euforia dan menghabiskan anggaran saja. Namun tentu harus lebih bermakna dan bermanfaat demi kemaslahatan rakyat. Ada baiknya diselingi dengan kegiatan diskusi tentang infrastruktur tidak merata, BBM langka, PLN, peredaran narkoba internasional, pekat, stunting, daerah tangkap nelayan, transportasi, kualitas pendidikan dll. Ada banyak cara untuk melakukan kebaikan. Bahkan cara bersyukur yang efektif adalah aparatur dan stakeholder dapat berkerja keras untuk mengatasi segala kekurangan, kelemahan, hambatan pencapaian tujuan bersama, yakni masyarakat sejahtera, bukan pra sejahtera.

Sejarah perlu dicatatkan dengan baik dan akurat, belajar dari peristiwa yang sudah terjadi, menjadi pelajaran bagi generasi nanti. Namun tentu tidak cukup acara seremonial ultah itu bisa jadi agen perubahan pembangunan dalam berbagai bidang yang tertinggal itu tanpa didukung komitmen kuat dan program kerja berkelanjutan untuk memajukan daerah. Momen ultah, jika tidak dimanfaatkan secara optimal, paling hanya bisa jadi ajang nostalgia saja. Acapkali kita terjebak pada romansa nostalgia perjalanan perjuangan yang penuh dinamika politik dan tidak jarang terperangkap pada stigma merasa jadi “orang yang paling berjasa” atas pencapaian bersama.

Ingatlah dalam kaidah pragmatis politik itu “tiada kawan sejati kecuali kepentingan”. Kepentingan yang lebih penting adalah diantaranya memajukan kehidupan masyarakat menuju kesejahteraan merata.

Siapakah yang lebih penting merayakan dan menjadi starring dalam tiap ultah daerah pemekaran suatu daerah? Tentulah pihak yang menjadi sasaran pokok tujuan pemekaran itu, yakni rakyat jelata, bukan hanya pejabat atau kaum tertentu saja. Apalagi jika mayoritas masyarakat daerah dimaksud masih hidup dibawah garis kemiskinan alias pra sejahtera atau sebutan kampung yaitu disebut PAPA KEDANA. Sungguh fakta ini mengusik hati nurani kita untuk menelisik kinerja eksekutif dan legislatif daerah tersebut. Ada apa dengan kinerja mereka? Lalu siapa yang sejahtera? Jika kesejahteraan tidak merata, tentu terindikasi ada yang salah kelola.

Bagaimana pula jika merayakan ultah bukan golongan rakyat yang tersebut diatas? Benarkah itu? Sementara rakyat masih dilanda oleh nestapa gundah gulana karena kehidupan sengsara yang belum sirna, bagaimana bisa merasa bahagia? Kata ahli ekonomi: TIDAK ADA NEGERI MISKIN, KECUALI SALAH KELOLA. Bukan salah ibu mengandung, sudah suratan tangan sendiri.

Semoga ada yang berempati serius atas nasib mayoritas rakyat yang belum dapat menjadi subjek pembangunan dan politik. Selama rakyat masih terus menjadi objek politik maka nasib kaum marjinal itu tetaplah berpotensi menjadi fenomenal, karena masalah fundamental belum tersentuh secara nominal, hanya jadi jargon kempen emosional setiap 5 tahun sekali?

Selamat ultah KKA, semoga semakin LAWA.

Penulis : Johari, SH

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed