Tanjungpinang, Anambasnews.com – Fenomena bed rotting yang marak di kalangan Generasi Z belakangan ini menjadi topik yang tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga mengundang perdebatan serius di ruang-ruang akademik dan sosial. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian di tempat tidur tanpa aktivitas produktif, selain menggulir layar ponsel, menonton video, atau sekadar berdiam diri. Sekilas, fenomena ini tampak seperti bentuk istirahat biasa setelah rutinitas yang melelahkan. Namun jika ditelisik lebih dalam, bed rotting menyimpan lapisan persoalan yang lebih kompleks, terutama jika dikaitkan dengan kondisi literasi Generasi Z.
Generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah arus deras teknologi digital. Mereka memiliki akses tak terbatas terhadap informasi, pengetahuan, dan hiburan. Ironisnya, kelimpahan akses ini tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman atau kedalaman berpikir. Di sinilah fenomena bed rotting menjadi relevan untuk dianalisis sebagai gejala yang tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan krisis literasi yang lebih luas.
Bed rotting sering dikaitkan dengan kelelahan mental, kecemasan, bahkan depresi. Banyak anak muda merasa terbebani oleh ekspektasi sosial, tekanan akademik, serta ketidakpastian masa depan. Dalam kondisi seperti ini, tempat tidur menjadi ruang pelarian yang dianggap paling aman. Rebahan bukan lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan simbol keinginan untuk “menarik diri” dari realitas yang terasa terlalu berat. Namun, ketika kebiasaan ini menjadi pola yang berulang, ia justru berpotensi memperparah kondisi mental dan menurunkan produktivitas.
Di sisi lain, literasi yang seharusnya menjadi alat untuk memahami dunia dan diri sendiri justru mengalami degradasi. Literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, dan membangun makna. Generasi Z memang dikenal sebagai “digital native”, tetapi kedekatan mereka dengan teknologi tidak otomatis membuat mereka literat secara mendalam. Justru yang terjadi seringkali adalah konsumsi informasi yang dangkal dan serba instan.
Kebiasaan bed rotting memperkuat pola konsumsi pasif tersebut. Saat berjam-jam dihabiskan untuk menggulir konten pendek, otak terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan kecil tanpa konteks yang utuh. Hal ini berdampak pada menurunnya kemampuan konsentrasi dan daya tahan dalam membaca teks panjang atau memahami ide kompleks. Akibatnya, literasi menjadi sekadar aktivitas permukaan, bukan proses reflektif yang membangun pemahaman.
Lebih jauh lagi, fenomena ini juga mencerminkan perubahan cara Generasi Z memaknai waktu. Waktu yang dahulu dipandang sebagai sumber daya berharga untuk belajar dan berkembang, kini seringkali dihabiskan dalam kondisi stagnan. Bed rotting bukan hanya soal malas, tetapi juga tentang kehilangan arah dan tujuan. Ketika seseorang tidak memiliki motivasi yang jelas, maka aktivitas paling mudah seperti rebahan menjadi pilihan utama.
Di sinilah pentingnya literasi sebagai fondasi untuk membangun kesadaran diri. Literasi yang kuat tidak hanya membantu seseorang memahami dunia luar, tetapi juga mengenali kondisi internalnya. Dengan kemampuan literasi yang baik, seseorang dapat merefleksikan perasaannya, mengidentifikasi sumber stres, dan mencari solusi yang konstruktif. Tanpa itu, individu cenderung terjebak dalam siklus pasif yang sulit diputus.
Fenomena bed rotting juga tidak bisa dilepaskan dari budaya digital yang serba cepat dan kompetitif. Media sosial seringkali menampilkan standar hidup yang tidak realistis, memicu perasaan tidak cukup atau insecure. Dalam kondisi seperti ini, sebagian Generasi Z memilih untuk “menyerah sementara” dengan cara menarik diri dari aktivitas produktif. Namun, alih-alih menjadi solusi, hal ini justru memperkuat perasaan tidak berdaya.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan mengakses informasi dan kemampuan mengelola informasi tersebut. Generasi Z mungkin mampu menemukan berbagai konten motivasi atau edukasi, tetapi tanpa literasi kritis, mereka sulit menyaring mana yang relevan dan bermanfaat. Akibatnya, informasi yang seharusnya memberdayakan justru menjadi distraksi yang memperparah kebiasaan pasif.
Penting untuk dipahami bahwa bed rotting tidak selalu negatif. Dalam batas tertentu, beristirahat dan memberi ruang bagi diri sendiri adalah hal yang wajar dan bahkan diperlukan. Masalah muncul ketika aktivitas ini menjadi pelarian utama dari setiap tekanan. Di sinilah literasi emosional dan literasi digital memainkan peran penting. Individu perlu mampu membedakan antara istirahat yang sehat dan penghindaran yang tidak produktif.
Upaya mengatasi fenomena ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan yang holistik, melibatkan keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial. Dalam konteks pendidikan, literasi harus diajarkan tidak hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi juga sebagai kecakapan hidup (life skill). Siswa perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, manajemen waktu, serta kesadaran akan kesehatan mental.
Selain itu, perlu ada upaya untuk mengubah cara pandang terhadap produktivitas. Generasi Z seringkali terjebak dalam dua ekstrem: terlalu produktif hingga burnout, atau tidak produktif sama sekali. Literasi dapat membantu menyeimbangkan kedua kondisi ini dengan memberikan pemahaman bahwa produktivitas tidak selalu berarti bekerja tanpa henti, tetapi juga mencakup kemampuan mengelola energi dan waktu secara bijak.
Peran komunitas juga tidak kalah penting. Lingkungan yang suportif dapat menjadi faktor penentu dalam mengurangi kebiasaan bed rotting. Komunitas literasi misalnya, dapat menjadi ruang alternatif bagi Generasi Z untuk berinteraksi secara lebih bermakna. Diskusi buku, forum belajar, atau kegiatan kreatif dapat menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari konsumsi pasif menuju aktivitas yang lebih produktif.
Di era digital ini, literasi juga harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Platform digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan literasi, bukan justru menjadi sumber distraksi. Konten edukatif yang menarik dan relevan dapat membantu menarik minat Generasi Z untuk kembali aktif secara intelektual. Namun, hal ini tentu membutuhkan kolaborasi antara kreator, pendidik, dan pembuat kebijakan.
Fenomena bed rotting pada akhirnya adalah cermin dari kondisi yang lebih luas: kelelahan kolektif, krisis makna, dan lemahnya literasi. Ia bukan sekadar tren sesaat, tetapi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam cara kita mendidik, membimbing, dan mendukung generasi muda. Menghakimi Generasi Z sebagai malas tentu bukan solusi. Yang dibutuhkan adalah pemahaman yang lebih mendalam dan pendekatan yang lebih empatik.
Literasi, dalam hal ini, menjadi kunci untuk membuka jalan keluar. Dengan literasi yang kuat, Generasi Z tidak hanya mampu memahami fenomena bed rotting, tetapi juga menemukan cara untuk mengatasinya. Mereka dapat belajar untuk mengelola waktu, mengenali emosi, dan membangun tujuan hidup yang lebih jelas. Dengan demikian, tempat tidur tidak lagi menjadi simbol pelarian, tetapi kembali pada fungsi utamanya: tempat beristirahat untuk mempersiapkan diri menghadapi hari esok.
Pada akhirnya, masa depan generasi muda tidak ditentukan oleh seberapa sering mereka rebahan, tetapi oleh seberapa mampu mereka bangkit dan mengambil kendali atas hidupnya. Dan untuk itu, literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Oleh : Harken
Ketua Pengurus Wilayah
Forum TBM Kepuluan Riau











