Anambasnews.com – Pulau Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, dikenal dengan hutan mangrove luas, muara sungai, dan perairan dangkal yang menjadi habitat ideal bagi buaya. Wilayah ini bahkan kerap disebut sebagai salah satu sarang buaya di daerah tersebut, membuat masyarakat pesisir khususnya nelayan harus hidup berdampingan dengan ancaman yang selalu mengintai.
Kepanikan kembali melanda warga di Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur, pada Minggu, 25 Januari 2026, ketika seekor buaya ditemukan tersangkut di keramba ikan milik warga. Kejadian itu langsung membuat nelayan terkejut dan gempar.
Buaya pertama kali terlihat saat seorang nelayan hendak memeriksa keramba. Dari kejauhan, warga melihat sosok buaya yang tidak bergerak dengan bagian kepala terjepit di antara kayu penyangga keramba. Diduga kuat, buaya tersebut hendak memangsa ikan bernilai tinggi seperti Napoleon atau Ketipas yang dibudidayakan di dalamnya, namun upayanya gagal dan membuat tubuhnya tidak bisa bergerak bebas.
Akibat terlalu lama tersangkut, buaya tersebut akhirnya mati di lokasi. Meski tidak ada serangan terhadap warga, kejadian ini membuat nelayan trauma dan khawatir akan keselamatan mereka saat bekerja. Selain itu, mereka juga hampir mengalami kerugian karena ikan di keramba berpotensi rusak akibat kejadian tersebut.
Kapolsek Jemaja, Iptu Sutomo, mengatakan setelah mendapat laporan, buaya yang sudah mati langsung dievakuasi oleh masyarakat setempat dengan pengawasan aparat dan dibawa ke daratan.
“Buaya yang tersangkut di keramba itu sudah dalam kondisi mati dan langsung dievakuasi ke darat agar tidak membahayakan warga,” ujar Iptu Sutomo.
Ia menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka akibat peristiwa ini, namun masyarakat tetap merasa resah. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa atau yang terluka, namun kejadian ini membuat masyarakat khawatir,” kata Sutomo.
Sutomo juga mengingatkan bahwa Pulau Jemaja memang merupakan wilayah habitat buaya. “Kami mengimbau masyarakat khususnya nelayan agar selalu berhati-hati saat beraktivitas di laut dan sungai, karena wilayah ini memang dikenal sebagai sarang buaya,” tegasnya.(*Ak)













