Opini

Paras Anambas Diusia 17 Tahun Pas

225
×

Paras Anambas Diusia 17 Tahun Pas

Sebarkan artikel ini
Abu Hanifah, S.Ag, MM Ketua MD KAHMI Anambas sekaligus Ketua Yayasan Polau Tojoh Indonesia. (Foto: Ist)

ANAMBASNEWS.COM – Pas 17 tahun sudah usia Kabupaten Kepulauan Anambas, 24 Juni 2008-24 Juni 2025, selama 17 tahun tentunya banyak capaian yang telah diraih dan pantas kita apresiasi, moda transportasi sudah lebih memadai dan semakin banyak pilihan, mulai dari Very reguler, Kapal Roro, Bukit Raya hingga penerbangan Pesawat Wing Air dan Susi Air dari Bandara Jemaja.

Jaringan PLN hampir menjangkau sebagian besar wilayah Anambas dan meluasnya jaringan telekomunikasi bahkan sebagian besar sudah bisa diakses dengan 4G. Infrastruktur jalan poros semakin lebar, panjang dan mulus yang menghubungkan berbagai wilayah daratan di Kabupaten Kepulauan Anambas dan masih banyak lagi infrastruktur publik yang telah berhasil dibangun yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sebagai identitas daerah termasuk pembangunan ikon keagamaan yang menjadi kebanggaan masyarakat kepulauan Anambas yakni Mesjid Agung Baitul Ma’mur yang tinggi menjulang diatas bukit dan selalu menyapa dengan ramah setiap pendatang sekaligus sebagai simbol persaudaraan dan harapan untuk meraih kemakmuran dan kebahagiaan sejati dunia akherat. LAM atau Lembaga Adat Melayu Anambas tak ketinggalan menjadi pengikat resam dan adat sebagai penanda bahwa masyarakat Anambas adalah masyarakat yang dipenuhi dengan nilai-nilai luhur dan beradab yang siap menerima pendatang darimanapun, tanpa memandang perbedaan suku, ras, agama dan perbedaan pilihan lainnya, terkecuali yang jelas-jelas bertentangan dengan ideologi bangsa, falsafah negara dan UUD Republik Indonesia.

Meski capaian keberhasilan nampak nyata namun bukan berarti Kabupaten Kepulauan Anambas telah bebas dan lepas dari berbagai problema yang mendera, masih banyak masalah akut yang hingga kini masih belum menemukan jalan keluarnya. Harus diakui membangun sebuah daerah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi pembangunan yang berorientasi untuk peningkatan kesejahteraan dan menciptakan rasa keadilan hingga menimbulkan rasa kebahagiaan masyarakatnya.

Anambas terus berganti kepemimpinan, sebagai negara demokrasi dan Anambas sebagai basis masyarakat Melayu yang sangat menjunjung tinggi budaya egaliter dan terbuka dengan berbagai perbedaan tentu harus kita syukuri setiap suksesi kepemimpinan yang terjadi, semuanya berjalan dengan damai, aman dan hasil akhirnya bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Meskipun catatan buramnya tetap ada, sebab proses suksesi kepemimpinan dan berbagai pesta demokrasi yang terjadi semakin menunjukkan kecendrungan tingginya money politik dan praktek curang yang mengiringi perjalanan proses demokrasi. Tentunya prilaku kotor ini seharusnya kedepan tidak lagi menjadi pilihan dan semua pihak harus memiliki kesadaran kolektif bahwa demokrasi sejati bukanlah datang dari keterpaksaan, ketakberdayaan, atau bahkan jual beli suara dan prilaku culas lainnya, demokrasi sejati adalah memberikan ruang yang bebas kepada masyarakat untuk menentukan pilihan berdasarkan pilihan murni dengan pertimbangan kualitas, kapasitas, kapabilitas, rekam jejak dan visi untuk membangun, mencerdaskan, mensejahterakan dan membahagiakan masyarakatnya.

Setelah 17 tahun Anambas lahir menjadi Kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau, ada beberapa catatan yang harus menjadi perhatian serius untuk dilakukan upaya perbaikan dan langkah cerdas, cepat serta kongkrit agar mampu memberikan dampak maksimal bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat;

Peningkatan Layanan Kesehatan

Fasilitas dan akses pelayanan kesehatan yang buruk diberbagai wilayah Indonesia memang masih menjadi momok yang selalu menghantui kehidupan masyarakat tak terkecuali dialami oleh Kabupaten Kepulauan Anambas. Dengan kondisi geografis wilayah Kepulauan, cuaca exstrim yang sering melanda, berada diposisi terpencil, dan terluar di beranda negara, keterbatasan tenaga medis, kurangnya fasilitas kesehatan, keterbatasan obat-obatan dan minimnya berbagai infrastruktur pelayanan kesehatan lainnya masih sering menyebabkan masyarakat Anambas harus menahan derita, sedih dan menangis karena kenyataan pahit yang dihadapi. Seringkali masyarakat harus dirujuk ke luar Anambas, menempuh perjalanan belasan jam dalam kondisi sakit parah dan semakin menderita karena kondisi transportasi yang tidak memadai untuk pasien, orang yang sakit bahkan dalam kondisi kritis sekalipun terpaksa bercampur baur dengan penumpang umum bahkan berhimpitan dengan barang penumpang, sehingga tak jarang pasien tidak mampu bertahan dan menghembuskan nafas ditengah perjalanan, bisa dibayangkan orang sehat saja dengan perjalanan belasan jam ditambah medan yang berangin dan bergelombang sesampai ditujuan bisa mabuk darat atau sakit seluruh badan dan perlu waktu untuk pemulihan, apalagi orang yang dalam posisi kesakitan. Seharusnya diusia 17 tahun Anambas jangan lagi ada air mata duka sebab keluarganya berpulang ditengah lautan, ada sanak family meninggal di rumah sakit karena berjam-jam tidak ditangani oleh petugas medis dengan berbagai alasan, atau disuruh pulang setelah dicek ala kadarnya. Sudah terlalu banyak airmata yang tumpah karena masih minimnya layanan kesehatan yang didapatkan oleh masyarakat, Nyawa memang urusan Tuhan namun Tuhan juga mewajibkan kita berusaha, berupaya menjaga dan mempertahankan nyawa yang dititipkan olehnya.

Kabar baiknya, saat ini melalui program pemerintah pusat telah mulai dibangun RSUD Tipe C di Kabupaten Kepulauan Anambas dengan rencana anggaran mencapai Rp.150 milyar, kita bersyukur pada akhirnya Anambas akan memiliki rumah sakit yang memadai setelah 17 tahun berdiri, namun demikian yang harus menjadi perhatian serius adalah menjelang berfungsingya RSUD tersebut, tentunya layanan kesehatan maksimal buat masyarakat tetap harus diupayakan, jangan beralasan menunggu RSUD bisa digunakan lalu kesehatan bahkan nyawa masyarakat kita abaikan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mari kita kawal bersama-sama untuk memastikan pembangunan gedung RSUD berjalan sesuai perencanaan bukan justru menjadi ajang bancaan atau mengeruk keuntungan bagi pihak-pihak tertentu sehingga gedung RSUD mangkrak seperti banyaknya pembangunan yang mangkrak di Anambas. Jikalau pasar mangkrak yang nilai proyek mencapai Rp. 27,5 milyar, bisa jadi hanya ekonomi masyarakat yang merana, namun jika gedung RSUD yang mangkrak maka nyawa masyarakat yang terancam bahaya dan menjadi taruhannya.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan

17 tahun usia Anambas bahkan hingga beberapa tahun kedepan tantangan ekonomi akan semakin serius, karena situasi global, regional dan nasional sedang tidak baik-baik saja. Kita tahu bahwa dunia sedang dilanda berbagai macam krisis utamanya adalah krisis ekonomi dan krisis perang yang sedang terjadi dan bisa saja akan terus melebar, kita tahu dan sudah kita rasakan negara sedang melakukan efisiensi besar-besaran sehingga dana transfer ke Daerah benar-benar diperhitungkan yang berujung pada pemangkasan diberbagai sektor dan kita tahu salah satu penyebab utamanya adalah kewajiban pelunasan beban hutang negara kita yang terus menggunung bahkan sekelas Bank Dunia turut mengkhawatirkan kemampuan negara untuk melunasinya.

Menurut Data BPS, Pertumbuhan ekonomi Anambas tahun 2024 hanya mencapai 2,96% terendah dibanding Kabupaten lain di wilayah Provinsi Kepulauan Riau dengan Bintan yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 8,89%. Angka pengagguran terbuka Kabupaten Kepulauan Anambas tahun 2024 meski terendah dibanding dengan seluruh provinsi Kepri, apalagi dibanding TPT Batam yang mencapai 7,68%, namun dengan jumlah pendudukan yang paling kecil, TPT 2,38 % tetaplah angka yang mengkawatirkan.

Untuk itu sangat diperlukan upaya cerdas dan strategis guna menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi Anambas sekaligus berorientasi pada penciptaan lapangan pekerjaan sehingga menekan angka pengangguran terbuka di Anambas.

Peningkatan Kolaborasi Multi Stakeholder

Ditengah dinamika kawasan global, regional dan nasional yang terus bergerak bahkan bergolak, sangat dibutuhkan upaya kolaboratif dari semua stakeholder untuk mencapai tujuan yang diiginkan, oleh karenanya ego sektoral, one man show, serta penyakit merasa bisa melakukan semuanya haruslah dibuang jauh-jauh. Konsolidasi potensi Anambas baik potensi SDA hingga potensi SDMnya harus benar-benar menjadi agenda strategis Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, semua stakeholder yang potensial dan punya komitmen membangun Anambas harus diajak bersama dan diberikan ruang yang lapang agar semakin termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik buat masyarakat dan daerah.

Terkhusus stakeholder dunia usaha, Industri Migas dan SKK Migas, yang telah terbukti puluhan tahun menunjukkan komitmen kerja maksimalnya dalam upaya mengelola SDA Anambas dan memberikan manfaat Trilyunan rupiah melalui DBH Migas kepada Anambas dan multi flayer efek lainnya, sangat layak untuk diberikan apresiasi dan ruang kolaboratif yang lebih kontsruktif dalam upaya bersama-sama pemerintah dan masyarakat guna berpartisipasi mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih maju dan sejahtera.

Pemerintah Daerah harus sedikit agresif dalam melakukan komunikasi, koordinasi serta meloby Pemerintah Pusat agar Kabupaten Kepulauan Anambas mendapatkan perhatian lebih atau minimal sama dengan daerah lain yang telah mendapatkan dukungan maksimal dari Pemerintah Pusat, jangan lagi dianak tirikan atau dibiarkan merana meski terbukti Kepulauan Anambas banyak jasanya untuk negara.

Sudah waktunya semua unsur Pemerintah Daerah Anambas, masyarakat di Anambas serta masyarakat dan tokoh-tokoh potensial Anambas yang berada diluar Anambas dengan berbagai latar profesinya harus dipanggil, diajak dan diberikan ruang yang lebar untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah.

Sangat dimungkinkan dengan tindakan kolaboratif berbagai potensi strategis Anambas akan jauh lebih cepat dan maksimal untuk dikembangkan. Akselerasi pembangunan akan tercapai jika model kepemimpinan pastisipatif dan kolaboratif yang diterapkan, namun jika sebaliknya maka potensi Anambas akan terus terbenam dan hanya menjadi retorika semata yang sulit dikembangkan.

Sudah waktunya nama Anambas menggema dikancah nasional dan bahkan global bukan hanya berita buruknya, illegal fhising, peredaran narkoba, human trafficking, pulau-pulau yang diperdagangkan, perusakan lingkungan dan sebagainya, namun Anambas disiarkan karena prestasinya, keindahan dan kekayaan alamnya serta kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakatnya.

Selamat HUT Anambas ke 17, Teruslah berparas menuju Anambas Emas

 

Jakarta, 27 Juni 2025

Abu Hanifah, S.Ag, MM

Ketua MD KAHMI Anambas sekaligus Ketua Yayasan Polau Tojoh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *