KepriTanjungpinang

Gubernur Kepri Ajak Gubernur Jateng dan Lampung Telusuri Jejak Peradaban Melayu di Pulau Penyengat

43
×

Gubernur Kepri Ajak Gubernur Jateng dan Lampung Telusuri Jejak Peradaban Melayu di Pulau Penyengat

Sebarkan artikel ini
Gubernur Kepri, H. Ansar Ahmad menyambut hangat kedatangan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di Kota Tanjungpinang, Jumat, 13/6/2025. (Foto: Diskominfo)

ANAMBASNEWS.COM, Tanjungpinang – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) H. Ansar Ahmad menyambut hangat kedatangan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di Kota Tanjungpinang, Jumat, 13 Juni 2025 dengan mengajak keduanya menapaki jejak sejarah dan budaya Melayu di Pulau Penyengat. Kunjungan ini menjadi ajang silaturahmi antardaerah sekaligus sarana pertukaran nilai-nilai budaya dan wawasan kebangsaan yang berakar dari peradaban Melayu.

Dalam rombongan tersebut, Gubernur Ansar turut didampingi oleh Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza serta Kepala Dinas Pariwisata Kepri Hasan. Sementara Gubernur Jateng Ahmad Luthfi hadir bersama seluruh Bupati/Wali Kota se-Jawa Tengah dan sejumlah Kepala OPD. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga hadir bersama jajaran OPD Pemerintah Provinsi Lampung.

Kunjungan diawali dengan ziarah ke makam tokoh-tokoh besar Melayu yang menjadi simbol perjuangan dan peradaban bangsa, yakni Makam Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah, Makam Engku Puteri Raja Hamidah, dan Makam Raja Ali Haji penggagas Gurindam 12 dan peletak dasar Bahasa Indonesia modern. Para pemimpin daerah ini memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan atas jasa para pendahulu.

Selanjutnya, para tamu mengunjungi Balai Adat Melayu Pulau Penyengat dan menjalani prosesi adat seperti mencuci tangan dan muka serta meminum air dari perigi tua, sebagai simbol penyucian diri. Di lokasi tersebut, mereka juga mendapatkan penjelasan tentang sejarah dan peran penting balai adat sebagai pusat budaya Melayu.

Kunjungan ditutup di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, simbol keunggulan spiritual dan intelektual Kerajaan Riau-Lingga yang menjadi pilar penting dalam perkembangan budaya Melayu dan Bahasa Indonesia.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengaku terkesan dengan kekayaan nilai religius dan budaya di Pulau Penyengat.

“Banyak nilai religius yang harus dijaga dan bisa menjadi contoh bagi daerah Jawa Tengah,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Kami baru tahu bahwa pusat peradaban Melayu itu ada di sini. Gurindam 12 sarat akan nilai moral dan kebangsaan.”

Luthfi menyatakan bahwa kunjungan ini menjadi dasar pembentukan kerja sama yang lebih luas dengan Provinsi Kepri dalam berbagai bidang, termasuk investasi, industri, koperasi, UMKM, lingkungan, sosial, dan pengendalian inflasi melalui konsep circle competing.

Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti peran Pulau Penyengat dalam pembangunan nasional.

“Pulau Penyengat mengajarkan bahwa dengan peradaban, suatu daerah bisa memberikan kontribusi besar bagi Indonesia, meski tak kaya secara materi,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi tingginya literasi masyarakat setempat dan berharap semangat pelestarian budaya terus diwariskan kepada generasi muda.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyambut baik kekaguman para tamu dan menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan pengakuan terhadap pentingnya warisan budaya Melayu dalam memperkuat karakter kebangsaan.

“Pulau Penyengat bukan hanya milik Kepri, tapi merupakan warisan bangsa. Di sinilah akar Bahasa Indonesia itu tumbuh,” ucapnya.

Ansar menegaskan kesiapan Pemprov Kepri membuka ruang kerja sama lintas provinsi, khususnya di sektor budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari upaya membentuk ekosistem kolaboratif antardaerah.

“Kita ingin kunjungan ini menjadi awal dari sinergi nyata antarpemimpin daerah untuk mengangkat kembali nilai-nilai luhur bangsa,” pungkas Ansar.

Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antarprovinsi melalui pendekatan budaya, serta menggali potensi kerja sama strategis demi pembangunan yang berkelanjutan dan berakar pada jati diri bangsa.**

Editor : Wanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *