Tanjungpinang, Anambasnews.com – Di jantung Kota Tanjungpinang, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Melayu dan perkembangan pendidikan di Kepulauan Riau. Bangunan itu adalah Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, sebuah destinasi wisata yang memikat para pecinta sejarah, budaya, dan siapa saja yang ingin menggali lebih dalam tentang akar Tanjungpinang, Jumat, 7 November 2025.
Nama museum ini diambil dari Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722–1761), Sultan pertama Kerajaan Riau–Lingga–Johor–Pahang. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan berhasil mempertahankan kedaulatan kerajaan di tengah berbagai tantangan politik dan ekonomi. Kepemimpinannya yang bijaksana menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Namun, tahukah Anda bahwa bangunan yang kini menjadi museum ini memiliki sejarah yang tak kalah menarik? Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, gedung ini adalah Holland Inlandsche School (HIS), sekolah dasar pertama di Tanjungpinang yang didirikan pada tahun 1918. HIS menjadi wadah bagi anak-anak Melayu untuk mendapatkan pendidikan formal dengan kurikulum berbahasa Belanda.
Pada masa pendudukan Jepang, HIS berganti nama menjadi Futsuko Gakko I dan berfungsi selama 2,5 tahun. Setelah Indonesia merdeka, sekolah ini dikenal sebagai Sekolah Rakyat (SR), kemudian menjadi SD 01 Tanjungpinang hingga tahun 2004. Bayangkan, berapa banyak generasi muda Tanjungpinang yang telah menimba ilmu di bangunan ini.
Melihat nilai historisnya yang sangat besar, Pemerintah Kota Tanjungpinang bersama tokoh masyarakat bersepakat untuk melestarikan bangunan ini sebagai cagar budaya. Pada tahun 2006, gedung ini resmi ditetapkan sebagai Museum Kota Tanjungpinang. Setahun kemudian, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memberikan dukungan dengan menambah fasilitas penunjang seperti ruang kantor, rumah jaga, pos jaga, MCK, dan sumur.
Kini, Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah bukan hanya sekadar tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Museum ini adalah pusat informasi dan edukasi yang menyajikan berbagai koleksi artefak, foto-foto lama, dokumen sejarah, dan informasi interaktif yang menggambarkan kejayaan Kesultanan Melayu Riau-Lingga, perkembangan pendidikan di Tanjungpinang, serta arsitektur kolonial yang unik.
Pengunjung dapat melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat Tanjungpinang pada masa lalu, bagaimana sistem pendidikan berkembang dari masa ke masa, dan bagaimana pengaruh budaya Melayu, Belanda, dan Jepang berpadu dalam arsitektur bangunan museum.
Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah adalah jendela yang membuka cakrawala sejarah Tanjungpinang. Dengan mengunjungi museum ini, kita dapat lebih memahami identitas dan jati diri kita sebagai warga Kepulauan Riau. Mari lestarikan sejarah dan budaya kita untuk generasi mendatang.(*Dani)













