Tanjungpinang

Di Tengah Perayaan Hari Nelayan, Huzrin Hood Ingatkan Masalah Nyata Nelayan Kepri

25
×

Di Tengah Perayaan Hari Nelayan, Huzrin Hood Ingatkan Masalah Nyata Nelayan Kepri

Sebarkan artikel ini
Huzrin Hood, menyampaikan pernyataan penting dalam peringatan Hari Nelayan yang digelar oleh Himpunan Masyarakat Nelayan Seluruh Indonesia (HMNI) di Food Court A8 Pinang Harmoni Square, Rabu (22/4/2026). (Foto: Dani/Anambasnews.com)

Tanjungpinang, Anambasnews.com – Tokoh sentral pembentukan Provinsi Kepulauan Riau dan mantan Ketua HNSI, Huzrin Hood, menyampaikan pernyataan penting dalam peringatan Hari Nelayan yang digelar oleh Himpunan Masyarakat Nelayan Seluruh Indonesia (HMNI) di Food Court A8 Pinang Harmoni Square, Rabu (22/4/2026).

Dalam sambutannya, Huzrin Hood mengawali dengan ucapan selamat Hari Nelayan, sekaligus mengajak para nelayan untuk memperkuat aspek spiritual dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya selaku mantan pengurus HNSI sejak masa Kabupaten Kepri dulu mengucapkan selamat Hari Nelayan pertama. Saya mengharapkan kepada nelayan untuk mulai mempersiapkan diri, mengamalkan perintah Allah SWT dengan disiplin, mulai dari salat lima waktu hingga mendidik anak-anak menjadi amal saleh,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesungguhan seluruh pemangku kepentingan dalam menjadikan nelayan sebagai sektor prioritas agar mereka bisa hidup layak. Menurutnya, selama ini nasib nelayan masih sangat bergantung pada para tengkulak atau tauke di daerah masing-masing.

“Sejak lama nasib nelayan tergantung benar-benar kepada tauke-tauke, mulai dari Senayang, Kundur hingga Natuna dan Anambas. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.

Huzrin Hood mengungkapkan bahwa di beberapa daerah seperti Natuna, sebagian nelayan sudah mulai menunjukkan kemajuan. Ia menilai adanya upaya kolektif masyarakat nelayan dalam meningkatkan kesejahteraan patut diapresiasi.

Namun demikian, ia meminta pemerintah untuk lebih transparan dan serius dalam mengalokasikan anggaran bagi kesejahteraan nelayan. Ia juga menyoroti sistem pinjaman yang masih membebani nelayan dengan bunga tinggi.

“Kita harus melihat berapa persen anggaran pemerintah yang benar-benar diperuntukkan bagi nelayan. Apakah mereka masih berangkat melaut dengan sistem pinjaman berbunga tinggi? Ini harus dibenahi, termasuk kemudahan izin,” katanya.

Selain itu, Huzrin Hood mendorong diversifikasi usaha sebagai solusi ketika pendapatan dari laut menurun. Ia mencontohkan pengembangan budidaya rumput laut, investasi kepiting bakau, tambak udang, hingga sektor pertanian yang mulai digarap.

“Ada pola-pola yang sudah berjalan seperti rumput laut, kepiting bakau, tambak udang, bahkan pertanian yang dikelola oleh Ibu Nia Kunto Arif Wibawo. Ini bagian dari upaya mensejahterakan nelayan ketika hasil laut berkurang,” tutupnya.(*Dani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *