ANAMBASNEWS.COM, Lingga – Setiap tahun, masyarakat nelayan dari berbagai desa di Kabupaten Lingga, seperti Buyu, Baran, Rejai, Maut, Tanjung Lipat, dan Kalan, berbondong-bondong melaut untuk mengikuti tradisi menangkap ikan dingkis.
Mereka menggunakan pompong berkapasitas GT 2 atau sepit boat dari pantai masing-masing menuju lokasi penangkapan ikan dingkis di Desa Persiapan Buyu, Kecamatan Bakung Serumpun.
Para nelayan mengandalkan alat tangkap sederhana berupa pencedok ikan dingkis, yakni kain rawa atau kain tangsi.
Untuk penerangan, setiap pompong dilengkapi dengan lampu tenaga surya, yang berperan penting dalam menarik ikan dingkis agar mendekat dan lebih mudah ditangkap.
Menurut Judin, salah seorang nelayan Buyu, musim penangkapan ikan dingkis ini bertepatan dengan perayaan Imlek.
“Kalau sudah musim comek ikan dingkis, kami semua pergi ke laut menangkap ikan ini setiap hari,” ujarnya.
Proses penangkapan ikan dimulai sejak sore pukul 16.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. Semakin malam, pencahayaan dari lampu tenaga surya semakin terang, yang membuat ikan lebih jinak dan mudah diciduk satu per satu menggunakan pencedok.
Setelah tertangkap, ikan dingkis dimasukkan ke dalam paibal (wadah penyimpanan) agar tetap segar dan berkualitas.
Pada hari ketiga, para nelayan berpindah ke lokasi penangkapan ikan dingkis lainnya di perairan Desa Pulau Batang. Metode yang digunakan tetap sama, dengan pencedok kain sebagai alat utama. Namun, mereka menghadapi tantangan harga jual ikan yang fluktuatif.
“Tahun ini harga ikan dingkis sangat murah dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Judin.
Ia berhasil menangkap 10 kg ikan dingkis, namun harga jualnya bervariasi. Seorang ibu di kampung menawar hasil tangkapannya seharga Rp50.000 per kilogram, sementara pembeli dari luar menawarkan harga lebih tinggi, yakni Rp70.000 per kilogram.
Meski harga ikan tidak menentu, tradisi menangkap ikan dingkis tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan nelayan di Lingga. Selain sebagai mata pencaharian, kegiatan ini juga menjadi budaya turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.(Suharman)













