ANAMBASNEWS.COM – Di jantung kota Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, terletak sebuah pasar tradisional bernama Pasar Tanjung. Dahulu, pasar ini adalah pusat kehidupan ekonomi masyarakat, tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat bertransaksi kebutuhan sehari-hari. Namun, kini, denyut nadi ekonomi itu kian melemah, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di wajah para pedagang.
Sudah dua tahun lamanya Pasar Tanjung dilanda sepi pembeli. Padahal, di masa jayanya, pasar dua lantai ini menjadi tujuan utama warga untuk berbelanja. Ikan segar hasil tangkapan nelayan, rempah-rempah yang menghangatkan masakan, sayur-mayur segar dari kebun, hingga berbagai perlengkapan dapur tersedia lengkap di sini.
Namun, seiring berjalannya waktu, sepinya pembeli memaksa banyak pedagang untuk menyerah. Dari sekitar 30 lapak yang dulunya dipenuhi dengan aktivitas jual beli, kini hanya tersisa empat pedagang yang masih setia bertahan. Sebagian besar kios tampak kosong, gelap, dan tidak berpenghuni, menambah kesan suram pada pasar ini.
“Ya, beginilah suasana pasar sekarang. Sepi… Banyak teman-teman pedagang yang sudah tidak sanggup lagi berjualan di sini. Kami sedih, tidak tahu lagi harus bagaimana,” ujar Rahmadi, seorang pedagang ikan dengan nada lirih. Setiap hari Jumat, ia masih berusaha menjajakan dagangannya, berharap ada pembeli yang datang.
Rahmadi mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama sepinya pembeli adalah lokasi pasar yang kurang strategis. Terletak di dalam gang pelantar yang sempit, membuat Pasar Tanjung sulit dijangkau oleh masyarakat. “Dulu memang lengkap. Di bagian depan, kami menjual ikan segar hasil tangkapan laut. Di bagian belakang dan lantai dua, ada bumbu dapur, rempah-rempah, dan bahan-bahan kering lainnya,” ujarnya, Jumat, 24/10/2025.
Ia juga menilai bahwa Pasar Tanjung kalah bersaing dengan Pasar Inpres Tarempa yang memiliki lokasi lebih strategis di pusat kota. “Pasar Inpres itu dekat dengan pelabuhan, berada di tepi jalan utama. Jadi, para pembeli lebih memilih untuk berbelanja di sana,” ujarnya dengan nada pasrah.
Rahmadi berharap pemerintah, khususnya Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag), dapat segera mencari solusi untuk menghidupkan kembali Pasar Tanjung. “Mungkin bisa diadakan acara-acara menarik seperti festival kuliner, pertunjukan seni tradisional, atau bazar produk lokal. Setidaknya, ada langkah nyata yang diambil agar pasar ini bisa kembali ramai dan menjadi pusat perekonomian masyarakat,” harapnya dengan penuh harap.
Di tengah kesepian pasar, masih ada secercah harapan dari Yolana, seorang pembeli setia Pasar Tanjung. Ia mengaku tetap berbelanja di sana karena kelengkapan barang yang ditawarkan. “Di sini, semua kebutuhan dapur ada. Mulai dari bahan-bahan segar hingga bumbu-bumbu masakan. Sayang sekali, pasar sebagus ini seperti dibiarkan begitu saja,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Menurut Yolana, Pasar Tanjung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perbelanjaan utama bagi warga Anambas jika dikelola dan dipromosikan dengan baik. “Jika pemerintah memberikan perhatian yang lebih, saya yakin pasar ini bisa bangkit kembali dan menjadi kebanggaan masyarakat,” ujarnya dengan optimisme yang terpancar dari matanya.(*Ak)













