Lingga, Anambasnews.com – Para nelayan di wilayah Tanjung Ambat, Desa Pulau Batang, Kecamatan Temiang Pesisir, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, kini tengah menghadapi dua tantangan berat sekaligus jumlah tangkapan ikan dan sotong di laut yang kian menyusut, diiringi dengan anjloknya harga jual hasil tangkapan. Kondisi ini memaksa banyak nelayan harus melaut lebih lama, bahkan tak sedikit yang terpaksa banting setir atau pergi bekerja ke luar daerah demi bertahan hidup.
Ibrahim (45 tahun), salah satu pengumpul atau penampung ikan di wilayah tersebut, mengaku prihatin melihat kondisi para nelayan saat ini. Menurutnya, penurunan harga ini sudah terjadi sejak Februari 2026 lalu. Meskipun penurunannya terlihat kecil, dampaknya sangat terasa bagi ekonomi nelayan maupun para penampung yang selama ini beroperasi menggunakan modal sendiri.
“Harga ikan dan sotong Comik di sini turun sejak Februari lalu. Memang penurunannya tidak drastis, tapi dampaknya sangat terasa bagi kami penampung yang membantu warga dengan modal sendiri. Akibat susahnya mencari ikan dan rendahnya harga, banyak nelayan Tanjung Ambat yang kini terpaksa pergi bekerja ke luar daerah karena melaut di perairan terdekat sudah tidak lagi menjanjikan hasil,” ungkap Ibrahim.
Ia menjelaskan, masalah harga ini menjadi lingkaran setan. Penampung lokal terpaksa membeli dengan harga murah karena pasokan dari penampung luar daerah juga masuk dengan harga rendah.
Padahal, jika hasil tangkapan dibawa ke Tanjungpinang atau Batam, harganya bisa jauh lebih tinggi. Namun, tidak seluruh jenis ikan hasil tangkapan nelayan tradisional mampu diserap pasar lokal Tanjung Ambat.
“Justru kalau dijual ke Tanjungpinang atau Batam, harganya lebih bagus dan menguntungkan. Namun di sini, kami tertekan karena arus pasokan dari luar membuat harga di dasar. Kami sebagai penampung pun harus bertahan dengan kondisi ini cukup lama,” tambahnya.
Belum lagi, saat ini wilayah sedang memasuki musim timur. Di saat yang seharusnya menjadi masa panen, jumlah tangkapan nelayan justru menurun drastis hingga mencapai 20 persen.
Melihat kondisi yang makin memprihatinkan ini, Ibrahim berharap pemerintah daerah dapat turun tangan dan serius mencari solusi jangka panjang.
Salah satu usulan yang ia sampaikan adalah pendirian Koperasi Nelayan di wilayah tersebut, termasuk di Tanjung Ambat. Menurutnya, koperasi akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan bantuan rutin yang sifatnya habis dipakai.
“Bantuan dari pemerintah memang ada, tapi sifatnya hanya sementara. Begitu habis, ya selesai, dan nelayan tidak mengalami perkembangan ekonomi. Berbeda dengan koperasi, ini solusi jangka panjang yang bisa mengatur harga, pemasaran, dan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan. Kami sangat berharap perhatian serius ini ada,” harap Ibrahim.(*Suharman)













