Natuna, Anambasnews.com – Di Natuna, sebuah gugusan pulau yang dikelilingi laut luas dan angin yang tak pernah berhenti berhembus, seorang gadis bernama Monica Natalie menanamkan sebuah mimpi yang tak pernah ia lepaskan.
Melalui sambungan telephone, Senin, 1 Desember 2025, ia bercerita, di usianya yang baru 19 tahun, ia menginginkan sesuatu yang belum pernah ada dalam keluarganya: kesempatan untuk duduk di bangku kuliah.
Monica adalah lulusan SMA Negeri 1 Bunguran Timur sekolah yang telah melahirkan banyak cerita perjuangan dari anak-anak daerah yang mencoba meraih masa depan yang lebih cerah.
Namun perjalanannya dari pulau kecil menuju kota metropolitan bukanlah kisah yang lurus. Ia justru berliku, penuh hambatan, dan pada beberapa titik bahkan nyaris membuat Monica menyerah.
Enam Kegagalan yang Menguji Keyakinan
Monica bercerita bahwa ia pernah mencoba enam kali mendaftar beasiswa. Enam kali pula ia gagal. Ada yang terhenti di tahap tes, ada pula yang kandas di pengumuman akhir. Setiap kegagalan itu seakan meruntuhkan sedikit demi sedikit kepercayaan diri yang selama ini ia bangun.
“Waktu gagal yang keenam, saya benar-benar hampir berhenti mencoba. Saya pikir mungkin kuliah bukan untuk saya,” ungkapnya.
Namun di dalam dirinya, ada bara kecil yang belum padam bara yang lahir dari kerja keras orang tuanya dan keyakinan bahwa ia tidak boleh menyerah hanya karena jalan yang ditempuh terasa berat.
Jalur Rapor: Titik Balik yang Membuka Jalan
Nilai rapornya selama SMA ternyata menjadi gerbang pembuka. Dengan rata-rata 90,1, Monica mencoba jalur nilai rapor di Universitas Esa Unggul, Jakarta. Tanpa disangka, inilah jalur yang akhirnya menerimanya.
Saat pengumuman diterima, Monica menangis. Bukan hanya karena ia lolos, tapi karena ia teringat dua sosok yang paling ia hormati Ayah Andian (43) dan Ibu Liliho (39) yang setiap hari bekerja sebagai karyawan swasta tanpa pernah mengeluh.
Cinta dan Keringat Dua Orang Tua yang Tak Pernah Libur
Ayah Monica sering berangkat pagi dan pulang malam. Ibunya bekerja tanpa mengenal hari libur. Meski keduanya hanya lulusan SMP, mereka menanamkan dalam diri anak-anaknya bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.
“Mereka tidak pernah bilang capek. Tapi saya tahu mereka sangat lelah.”
Walaupun beasiswa 100% menanggung biaya kuliah, biaya hidup di Jakarta tetap menjadi tantangan tersendiri. Namun kedua orang tuanya tetap berkomitmen penuh, sepanjang napas mereka masih kuat.
Dukungan dari keluarga besar sangat ia rasakan menjadi energi yang sangat besar, terutama dari tante, om dan anggota keluarga lainnya, yang tanpa henti memberi dukungan sehingga langkahnya mantap meniti perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih baik lagi.

Sosok Inspiratif di Tengah Perjuangan: Pak Faisal Firman
Di balik perjalanan Monica, ada pula sosok lain yang memberinya dorongan moral Pak Faisal Firman, Kabag Kerjasama Setda Natuna. Bagi Monica, beliau adalah figur inspiratif yang selalu hadir memberi semangat kepada anak-anak daerah yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi.
Pak Faisal bukan hanya pejabat pemerintahan; ia adalah sosok yang memahami betapa besar perjuangan anak-anak Natuna ketika harus merantau. Ia sering memberi motivasi, membimbing, dan membuka jalan lewat program serta informasi pendidikan yang ia bagikan.
“Pak Faisal selalu bilang bahwa anak Natuna bisa bersaing di mana saja. Tidak ada yang kurang dari kita, yang penting usaha dan percaya diri,” kata Monica dengan suara lembut dan bergetar menahan haru.
Di masa ketika Monica hampir menyerah, dorongan semangat seperti itulah yang membuatnya kembali bangkit. Kata-kata Pak Faisal tetap ia simpan hingga kini: “Jangan berhenti hanya karena gagal. Berhenti hanya kalau kamu sudah berhasil.”
Esa Unggul: Pintu Baru Menuju Masa Depan
Monica mengaku bangga bisa diterima di Jurusan Teknik Industri Universitas Esa Unggul, kampus yang menurutnya berkualitas dan berakreditasi baik, meskipun belum terlalu familiar di telinga sebagian orang.
“Kampusnya bagus, lingkungannya mendukung. Saya yakin saya bisa berkembang di sini,” ujarnya.
Bagi Monica, kampus itu bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah simbol dari perjuangan bertahun-tahun dan perwujudan dari harapan orang tuanya yang tak pernah padam.
Mimpi yang Tidak Lagi Sendiri
Kini, di tengah riuh rendah Jakarta, Monica menata langkahnya. Kadang rindu datang tanpa diundang, kadang ia merasa kecil dikelilingi gedung-gedung tinggi. Namun ia tahu, setiap langkahnya mengandung doa dari orang tua, dari guru sekolah, dan dari orang-orang seperti Pak Faisal Firman yang selalu percaya bahwa anak daerah bisa bersinar.
“Saya ingin membuktikan bahwa pengorbanan ayah dan ibu tidak sia-sia. Saya ingin menjadi kebanggaan keluarga dan daerah saya,” ucap Monica.
Perjalanannya belum selesai. Namun dengan tekad yang semakin matang, dukungan keluarga, dan semangat dari tokoh-tokoh inspiratif di sekelilingnya, Monica melangkah lebih jauh dari sebelumnya. Dari Natuna menuju Jakarta, dari mimpi menuju kenyataan ia terus berjalan.(*Dani)













