ANAMBASNEWS.COM — Mahasiswa UGM mengembangkan konsep pengolahan limbah batang pisang menjadi pupuk kompos untuk dimanfaatkan masyarakat tani. Program kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa UGM untuk masyarakat, di Dusun Caban Gunung, Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.
Kegiatan pembuatan limbah batang pisang menjadi kompos diinisiasi oleh lima mahasiswa kluster agro yakni, Indah Isnaeni Hidayati, Ulin Nuha Diah Wulandari, Galih Raka Siwi (Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian 2021), Triya Prasasti (Agronomi 2022), dan Andreleo Jean Caesar Purnama (Kehutanan 2022) di bawah bimbingan Arom Figyantika, S.Hut., M.Sc., Ph,D.
Ketua tim pengusung program, Indah Isnaeni Hidayati, mengatakan, bagi masyarakat umum batang pisang dianggap sebagai hasil samping pertanian yang tidak dimanfaatkan lagi. Sehingga, banyak petani yang membiarkan batang pisang teronggok sebagai sampah usai memanen buahnya.
Indah menilai, mudahnya membudidayakan pohon pisang menjadi alasan mengapa pohon yang sudah tidak produktif lagi dibiarkan mati, bahkan dimatikan.
“Limbah batang pisang di Dusun Caban Gunung, Kartoharjo sangat banyak jumlahnya, namun biasanya hanya didiamkan membusuk,” ujar Indah seperti dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (4/10).
Menurutnya, penggunaan pupuk kimia dalam budi daya pertanian memang memiliki efek langsung yaitu lebih cepat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan buah dibanding dengan menggunakan pupuk kompos. Namun, penggunaan pupuk kimia yang banyak dan dalam jangka waktu yang panjang berdampak tidak baik bagi kesuburan tanah.
“Di sisi lain ada banyak sisa pertanian yang bisa dijadikan pupuk, salah satunya batang pisang yang tak terpakai. Kandungan nutrisinya cukup bagus bila diolah lebih lanjut. Batang pisang kaya akan unsur makro, mikro, serta mikroba yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman, khususnya setelah melalui proses pengomposan,” terangnya.
Menurut Indah kompos dari batang pisang bisa menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan limbah batang pisang di masyarakat, serta mampu mendukung implementasi perbaikan lahan pertanian berkelanjutan.
Lanjut Indah mengatakan, pihaknya juga melibatkan Karang Taruna Dusun Caban agar bisa lebih aktif. Dengan kegiatan bersama membuat kompos dari limbah batang pisang ini, diharapkan dapat menjadi media dinamisator kelompok dan proses untuk saling kerja sama pemuda dalam membantu masyarakat.
“Pupuk yang dikembangkan merupakan campuran antara batang pisang, kotoran ternak, dan bahan-bahan alami lainnya,” terangnya.
Adapun program pelatihan berupa sosialisasi dan praktik pembuatan pupuk kompos batang pisang ini telah dilakukan pada 6 Agustus 2023 lalu, dengan dihadiri anggota karang taruna dan beberapa masyarakat tani sekitar Dusun Caban Gunung. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan packing dan aplikasi pupuk bersama pada lahan percobaan.
“Ke depan diharapkan pupuk ini mampu disebarluaskan dan diperjualbelikan oleh karang taruna setempat untuk mendukung pemasukan ekonomi karang taruna, serta dalam rangka menggaungkan penggunaan pupuk organik untuk memperbaiki lahan pertanian,” pungkasnya. ***(SARWANTO)













