Natuna, Anambasnews.com — Tidak semua pengabdian lahir dari tanah tempat seseorang dilahirkan. Ada pengabdian yang tumbuh dari rasa memiliki, dari ketulusan hati, dan dari pilihan untuk menetap serta mengabdi sepenuh jiwa. Itulah kisah Faisal Firman, putra Bandung yang menjadikan Kabupaten Natuna sebagai rumah kedua dan ladang pengabdian sepanjang hidupnya.
Faisal Firman pertama kali menginjakkan kaki di Natuna pada tahun 2002. Ia memulai pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara di Dinas Pertambangan dan Energi. Sejak awal, ia dikenal sebagai pribadi sederhana, pekerja keras, dan penuh tanggung jawab. Ketekunan serta dedikasinya membuat ia akrab disapa sebagai “ahli pertambangan”, sebuah sebutan yang lahir dari penghormatan atas konsistensinya dalam bekerja, bukan sekadar jabatan yang disandang.
Perjalanan dan pengabdian suami dari Aah Wasiah seirang guru yang pernah mengabdi di SDN 007 Ranai Darat yang sekarang bertugas di SDN 050 Cibiru Bandung dan ayah dari 3 orang anak yaitu Fadhil Abdullah, Alumni IPDN saat ini melanjutkan pengabdian ayahnya sebagai ASN di Pemkab Natuna, Dinda Fairuz Hisanah mahasiswa UNPAD, dan Fakhri Hanif mahasiswa ITB ini terus berlanjut hingga pada tahun 2022 ia dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Bagian Kerja Sama Setda Kabupaten Natuna. Pada fase inilah kontribusinya semakin terasa luas dan berdampak. Bagi Faisal, membangun daerah tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik, melainkan harus dimulai dari pembangunan sumber daya manusianya.
Keyakinan itulah yang mendorongnya membuka banyak pintu kerja sama, khususnya di bidang pendidikan. Dari semangat tersebut, lahirlah gagasan untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Natuna. Ia memulai langkahnya dengan memperjuangkan peluang bagi anak-anak Natuna agar dapat menempuh pendidikan di Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas, kampus bergengsi pencetak tenaga profesional di sektor energi.
“Awalnya tidak mudah. Mendapatkan kuota beasiswa di sana sangat sulit,” kenangnya.
Namun melalui jejaring yang ia bangun, khususnya dengan Kementerian ESDM, upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Natuna pun memperoleh kesempatan mengirimkan mahasiswa penerima beasiswa penuh ke PEM Akamigas. Dari titik inilah, jalan panjang kerja sama pendidikan terbuka semakin lebar.
Hingga kini, tercatat sekitar 190 putra-putri Natuna telah menempuh pendidikan di 13 perguruan tinggi mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Cepu, Purwokerto, hingga Batam. Sebuah capaian besar yang lahir dari ketekunan, kesabaran, dan komitmen jangka panjang.

“Anak-anak Natuna harus diberi ruang untuk bermimpi dan kesempatan untuk belajar setinggi mungkin. Dari merekalah masa depan daerah ini akan tumbuh,” ujar Faisal dengan penuh keyakinan.
Tepat pada hari ulang tahunnya, Senin, 29 Desember 2025, Pemerintah Kabupaten Natuna secara resmi melepas masa tugas Faisal Firman yang memasuki masa purna bakti. Momen tersebut berlangsung penuh haru, menjadi penanda berakhirnya satu bab pengabdian panjang yang sarat makna.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi Faisal Firman. Ia menyebutnya sebagai salah satu aparatur sipil negara terbaik yang pernah dimiliki daerah, sosok yang bekerja dengan hati, konsisten, dan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.
Dalam kesempatan itu, Faisal menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada masyarakat Natuna yang telah menerimanya sebagai bagian dari keluarga besar daerah ini. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para bupati dan wakil bupati, baik yang sedang menjabat maupun yang telah purna tugas, atas kepercayaan dan dukungan selama masa pengabdiannya.
Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan kerja yang telah menjadi sahabat seperjuangan, serta kepada keluarga tercinta yang senantiasa memberikan doa, kekuatan, dan ketulusan di setiap langkah hidupnya.
Bagi generasi muda Natuna seperti Monica, mahasiswa Universitas Esa Unggul, Marcel Rustiandi, Destia Rani, Mahasiswa Institut Teknologi PLN dan banyak nama lainnya Faisal Firman bukan sekadar pejabat. Ia adalah sosok yang memberi arah, membuka jalan, dan menyalakan harapan. Ia kerap berpesan agar para pelajar berani bermimpi besar, mempersiapkan diri dengan prestasi akademik maupun nonakademik, serta tidak pernah ragu melangkah maju meski berasal dari daerah perbatasan.
Kini, meski masa tugasnya telah usai, jejak pengabdian Faisal Firman tetap hidup di tengah masyarakat Natuna. Ia meninggalkan bukan sekadar catatan birokrasi, melainkan teladan tentang ketulusan, pengabdian, dan cinta terhadap negeri sebuah warisan berharga bagi generasi penerus di beranda utara Indonesia.(*Dani)













