Tanjungpinang, Anambasnews.com – Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Provinsi Kepulauan Riau mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai lokal dan peribahasa Melayu sebagai pegangan etika di tengah derasnya arus informasi digital.
Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kepulauan Riau, Harken, menilai era digital justru menjadi ruang baru bagi peribahasa dan kearifan lokal untuk kembali relevan, terutama dalam membangun sikap bermedia sosial yang beradab.
“Era digital adalah panggung baru bagi peribahasa untuk bersinar kembali. Nilai moral dan sosial di dalamnya semakin relevan di tengah budaya serba cepat dan instan,” ujar Harken.
Menurutnya, peribahasa yang kerap dianggap kuno sesungguhnya sarat pesan universal seperti kejujuran, kerja keras, kesantunan, dan kerendahan hati. Nilai-nilai tersebut dinilai sangat cocok dengan karakter masyarakat digital yang menyukai pesan singkat, padat, dan bermakna.
Harken mencontohkan peribahasa “terlajak perahu boleh diundur, terlajak kata badan binasa” sebagai pengingat pentingnya etika berkomentar di ruang digital. Begitu pula peribahasa “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” yang relevan dengan proses membangun karya dan personal branding di media sosial.
“Peribahasa itu to the point, padat makna, dan sangat cocok untuk Gen Z dan milenial. Saat netizen mudah terjebak hoaks dan ujaran kebencian, nilai-nilai ini justru menjadi rem moral,” tegasnya.
Forum TBM Kepri menekankan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca teks, tetapi juga memahami konteks budaya dan etika sosial. Menghidupkan kembali peribahasa berarti menguatkan kembali jati diri dan karakter bangsa di ruang digital.
Sebagai wilayah yang dikenal sebagai Benteng Literasi Melayu, Kepulauan Riau memiliki posisi strategis dalam sejarah bahasa dan sastra Melayu. Kehadiran Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji menjadi bukti kuatnya akar literasi budaya di daerah ini.
Forum TBM Kepri mendorong TBM di berbagai daerah untuk bertransformasi menjadi ruang diskusi dan dialektika, tidak hanya tempat membaca buku, tetapi juga wadah membahas penerapan nilai-nilai lokal dalam tantangan zaman modern.
“Gerakan literasi harus berpijak pada akar budaya. Teknologi dan budaya tidak bertentangan, justru bisa saling menguatkan,” kata Harken.
Melalui gerakan literasi berkelanjutan, Forum TBM Kepulauan Riau berharap masyarakat dapat membangun kehidupan digital yang beradab, berbudaya, dan berkarakter, tanpa kehilangan akar kebijaksanaan lokal.(*Dani)













