Anambas

Debit Air Siantan Anambas Turun Akibat Kemarau

11
×

Debit Air Siantan Anambas Turun Akibat Kemarau

Sebarkan artikel ini
Sumber Air Waduk di Kecamatan Siantan menurun, (Foto: Ak/Anambasnews.com)

Anambasnews.com – Musim kemarau mulai memberikan dampak langsung di Kabupaten Kepulauan Anambas, dengan dua sumber air utama di Pulau Siantan mengalami penyusutan debit secara signifikan beberapa waktu terakhir.

Penurunan volume air disebabkan minimnya curah hujan sejak sebulan terakhir, ditambah kondisi cuaca panas yang mempercepat berkurangnya cadangan air di sejumlah penampungan. Warga di sekitar mulai merasakan perubahan, terutama pada ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, setelah debit yang biasanya stabil kini menurun.

Kepala Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kepulauan Anambas, Arif Gunawan, menyatakan bahwa kedua sumber air terdampak berada di wilayah Pulau Siantan, dengan penyusutan paling drastis terlihat pada sumber air di Gunung Samak.

“Kondisi saat ini memang terjadi penurunan debit akibat tidak adanya hujan deras dalam beberapa waktu terakhir,” ujar Arif saat dikonfirmasi.

Menurutnya, berkurangnya pasokan dari sumber utama berpengaruh langsung terhadap distribusi air ke masyarakat. Jika kondisi terus berlanjut, potensi gangguan suplai tidak dapat dihindari. Sumber air lainnya juga mengalami kondisi serupa meskipun tidak separah lokasi pertama, dan penurunan tetap terpantau.

Pihak SPAM terus melakukan pemantauan terhadap kondisi sumber air, termasuk mengukur kapasitas debit yang masuk ke penampungan setiap hari. Langkah antisipasi juga disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika musim kemarau berlangsung lebih lama. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengaturan distribusi agar tetap merata, meskipun dalam kondisi terbatas.

Masyarakat diminta untuk menghemat penggunaan air, terutama untuk kebutuhan tidak mendesak. Kondisi ini terkait pola musim kemarau yang sedang berlangsung, dengan cuaca panas tinggi menyebabkan sumber air alami cepat menyusut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memprediksi musim kemarau akan berlangsung hingga akhir April sebelum memasuki masa peralihan. Namun, masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai potensi kemarau yang lebih panjang akibat ancaman fenomena El Nino yang dapat memperparah kekeringan.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga ketersediaan air, agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi di tengah kondisi cuaca yang kian kering.(*Ak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *