ANAMBASNEWS.COM, Bintan – Kabupaten Bintan menjadi salah satu dari 90 kabupaten/kota di Indonesia yang dinyatakan bebas dari Frambusia. Pengakuan ini ditandai dengan penyerahan Sertifikat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada hari Rabu (20/08) di Ruang Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kantor Kemenkes RI.
Sertifikat ini diberikan sebagai apresiasi atas keberhasilan Kabupaten Bintan dalam menekan angka penyakit Frambusia secara permanen, sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penilaian eradikasi Frambusia telah dilakukan sejak tahun 2024 oleh Kementerian Kesehatan.
Frambusia adalah penyakit infeksi bakteri Treponema pertenue yang dapat menyebabkan cacat seumur hidup, terutama pada anak-anak. Penyakit kronis ini menyerang kulit, tulang, dan sendi. Infeksi ini sangat menular dan sering terjadi di wilayah tropis dengan sanitasi yang buruk, terutama pada anak-anak usia di bawah 15 tahun.
“Alhamdulillah, ini adalah hasil kolaborasi yang baik dari semua pihak terkait. Kami berharap Bintan dapat mempertahankan status bebas Frambusia dan terus menjaga kesehatan masyarakat melalui pembangunan kesehatan yang berwawasan lingkungan serta penerapan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat),” kata Bupati Bintan, Roby Kurniawan.
Roby juga mengapresiasi Dinas Kesehatan Bintan dan seluruh elemen kesehatan masyarakat atas kegigihan mereka dalam mewujudkan wilayah yang sehat, nyaman, dan aman bagi masyarakat. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus berupaya dan berdoa agar derajat kesehatan di Bintan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan.
Kepala Dinas Kesehatan Bintan, Retno Riswati, menambahkan harapannya agar seluruh stakeholder dapat terus meningkatkan program-program kesehatan lainnya. Dukungan ini menjadi kekuatan besar untuk mewujudkan Bintan Sehat.
“Penghargaan Bebas Frambusia ini adalah bukti nyata bahwa dengan bersatu, hal yang tadinya dianggap mustahil bisa menjadi kenyataan. Terima kasih kepada semua pihak, mulai dari petugas kesehatan, tokoh masyarakat, hingga seluruh warga yang telah berpartisipasi aktif,” ujar Retno.
Retno juga memberikan edukasi tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko Frambusia yaitu, Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir, menjalani Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Selanjutnya, menghindari kontak langsung dengan kulit penderita Frambusia, meningkatkan kebersihan lingkungan dan sanitasi di sekitar tempat tinggal. Dan memeriksakan diri ke dokter jika terjadi kontak dengan penderita atau muncul gejala mirip Frambusia.(*Alek)













