Tanjungpinang, Anambasnews.com – Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Rabu (13/5/2026). Tujuan utama kunjungan tersebut adalah untuk mempelajari penerapan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis ekonomi sirkular yang telah dikembangkan pemerintah setempat.
Salah satu konsep unggulan yang menjadi sorotan adalah program Waste to Money atau sampah bernilai uang. Konsep ini tidak hanya berfokus pada upaya pengurangan volume limbah, namun juga dirancang agar mampu menghasilkan nilai ekonomi dan keuntungan langsung bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya.
Dalam sistem yang diterapkan Banyumas, pengelolaan dilakukan secara bertahap dan terstruktur, dimulai dari pemilahan sampah di sumber penghasilan. Selanjutnya, sampah diproses di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang pengelolaannya diserahkan kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Sisa residu dari tahapan tersebut kemudian dibawa ke TPST Berwawasan Lingkungan dan Edukasi (BLE) untuk diproses lebih lanjut menggunakan teknologi yang tersedia.
Dari rangkaian pengolahan tersebut, sampah diubah menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai guna tinggi, antara lain material daur ulang anorganik, maggot sebagai pakan ternak, hasil pirolisis, batu bata beton atau paving block, hingga bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk-produk ini kemudian digunakan untuk menutupi biaya operasional serta meningkatkan taraf ekonomi warga pengelola.
Lis Darmansyah menilai inovasi ini sangat relevan untuk diadopsi dan dikembangkan di Tanjungpinang. Menurutnya, penanganan persampahan tidak lagi bisa hanya dilihat dari sisi lingkungan saja, namun harus memiliki dampak ganda, yaitu kelestarian alam sekaligus kesejahteraan masyarakat.
“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan konsep ini, sampah diolah menjadi sumber pendapatan yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung biaya operasional pengelolaan sampah,” ujar Lis usai meninjau lokasi TPST BLE.
Keberhasilan Banyumas menjadikan sampah sebagai potensi ekonomi dinilai menjadi referensi tepat bagi Tanjungpinang dalam merancang pola penanganan sampah yang modern dan berkelanjutan. Lis berharap hasil kunjungan kerja ini dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan program kerja nyata, sehingga persoalan sampah di Kota Tanjungpinang dapat terselesaikan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh.
“Sistem terpadu berkelanjutan menjamin pengelolaan sampah tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai tambah ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tambahnya.(*Don)













