Natuna

Jaga Kearifan Lokal, KPDN Gelar Lomba Tradisional Ngael Cancang di Pantai Piwang

7
×

Jaga Kearifan Lokal, KPDN Gelar Lomba Tradisional Ngael Cancang di Pantai Piwang

Sebarkan artikel ini
KPDN menggelar Lomba Tradisional Ngael Cancang di Pantai Piwang, Minggu, 1/11/2026. (Foto: Jahari/Anambasnews.com)

Natuna, Anambasnews.com – Lebih dari 200 peserta memadati kawasan Pantai Piwang, Kecamatan Bunguran Timur, Minggu (1‑11‑2026), mengikuti lomba tradisional Ngael Cancang (memancing sambil berjalan) yang digagas Komunitas Pecinta Domino Natuna (KPDN) bersama Persatuan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) Kabupaten Natuna. Kegiatan ini sekaligus memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke‑27 Kabupaten Natuna.

Mengangkat warisan budaya khas daerah, penyelenggaraan lomba ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dapat dikemas dalam acara yang merakyat dan menghibur sekaligus mempererat kebersamaan warga. Melalui kegiatan ini, KPDN menunjukkan peran aktif komunitas dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah masyarakat.

Dewan Pembina KPDN Muhammad Erimuddin menjelaskan acara ini bertujuan menjalin silaturahmi sekaligus melestarikan tradisi Ngael Cancang agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

“Pertama, kegiatan ini untuk menjalin silaturahmi sesama masyarakat. Selain itu, kita juga ingin melestarikan budaya lokal. Tradisi Ngael Cancang ini masih lestari di kampung‑kampung kita dan tidak semua daerah memiliki tradisi seperti ini,” ujar Erimuddin.

Rangkaian acara dimulai dengan senam bersama pukul 07.00 WIB, dilanjutkan pembagian doorprize, sebelum lomba Ngael Cancang resmi dilepas. Antusiasme tampak terlihat dari beragam peserta yang hadir, mulai dari laki‑laki, ibu‑ibu, hingga anak‑anak perempuan.

“Pesertanya bukan hanya bapak‑bapak atau laki‑laki. Ada juga ibu‑ibu, bahkan tadi saya melihat beberapa anak perempuan ikut berpartisipasi. Ini menunjukkan kegiatan seperti ini masih menjadi hobi masyarakat,” katanya.

Dalam perlombaan, peserta membawa umpan masing‑masing, dan penilaian juara didasarkan pada jumlah tangkapan ikan, bukan berat atau ukurannya. Jenis ikan selayang dan ikan buntal tidak dihitung dalam penilaian.

“Dalam menentukan juara, ikan tidak ditimbang. Penilaiannya berdasarkan jumlah ikan yang didapat. Jadi, meskipun ikannya besar tetapi jumlahnya sedikit, belum tentu menjadi juara. Sebaliknya, peserta yang mendapatkan ikan lebih banyak sesuai ketentuan bisa berpeluang menang,” jelasnya.

Ketua Dewan Kehormatan PORDI Kabupaten Natuna Drs. H. Raja Mustakim mengapresiasi antusiasme warga yang turut berpartisipasi. Ia berharap tradisi ini terus dihidupkan untuk mempererat keakraban dan persatuan masyarakat.

“Saya lihat masyarakat sangat antusias mengikutinya. Kegiatan seperti ini sangat positif karena bisa mempererat keakraban, persatuan, dan kesatuan di antara sesama warga, serta bisa menguji kesabaran dalam hal menunggu apa yang kita dapatkan,” ujar Raja Mustakim.

Ia menambahkan momen peringatan HUT ke‑27 Natuna menjadi kesempatan memperkuat kebersamaan masyarakat dan mendorong pembangunan daerah. Ke depannya, KPDN diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi warga Natuna secara keseluruhan.

Ngael Cancang merupakan kekayaan budaya khas Natuna yang perlu dijaga agar tetap dikenal dan diminati generasi muda. Melalui kegiatan yang digagas KPDN dan PORDI ini, perayaan HUT ke‑27 Natuna tidak hanya berupa pesta, melainkan juga upaya menjaga identitas dan kearifan lokal daerah. Ke depannya, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan dengan dukungan berbagai pihak.(*Jahari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *