Natuna, Anambasnews.com — Penerapan pola pengelolaan Sekolah Menengah Kejuruan Badan Layanan Umum Daerah (SMK BLUD) dinilai mampu mendorong peningkatan produktivitas kegiatan Teaching Factory (Tefa) dan Project Based Learning (PBL) di SMK.
Melalui skema ini, sekolah kejuruan diharapkan mampu melahirkan berbagai produk bernilai jual tinggi sekaligus memperkuat konsep link and match dalam pengembangan ekosistem pendidikan vokasi, khususnya di daerah perbatasan.
Hal tersebut disampaikan Subbihi, Ketua MKKS SMA/SMK/SLB Kabupaten Natuna, saat dikonfirmasi pada 27 Januari 2026. Menurutnya, penerapan SMK BLUD menjadi langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha di era saat ini.
Lebih lanjut, Subbihi menjelaskan bahwa pola pengelolaan BLUD memberikan fleksibilitas kepada sekolah dalam menerapkan praktik bisnis yang sehat. Fleksibilitas tersebut berbentuk keleluasaan dalam pengelolaan keuangan dan operasional sekolah, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat berdasarkan prinsip efisiensi dan produktivitas, tanpa mengedepankan orientasi keuntungan semata.
Ia menambahkan, kerja sama yang dibangun melalui skema BLUD bertujuan untuk menyinergikan potensi antara berbagai pihak, khususnya dalam meningkatkan kualitas lulusan, kompetensi guru, serta optimalisasi teaching factory dan unit produksi dalam proses pembelajaran dengan pola manajemen BLUD.
Secara konstitusional, pengelolaan pendidikan melalui sistem BLUD sejalan dengan Pasal 48 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pengelolaan dana pendidikan harus berlandaskan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.
“SMK perlu dipotret secara komprehensif, tidak hanya sebagai wadah edukasi, tetapi juga sebagai sebuah korporasi yang membutuhkan manajemen menyeluruh. Mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan pembelajaran, pengawasan, pengelolaan aset dan keuangan, pengembangan SDM, hingga pemasaran,” ujar Subbihi.
Menurutnya, lulusan SMK disiapkan untuk siap kerja, berwirausaha, serta memiliki peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, sehingga diperlukan sistem pengelolaan yang adaptif dan profesional.
Ia berharap SMKN 1 Bunguran Timur dan SMK BLUD SMKN 1 Bunguran Barat dapat menjadi model pendidikan vokasi yang efektif dan memberikan dampak positif di tingkat lokal. Model ini diharapkan sejalan dengan tujuan pendidikan vokasi nasional dalam mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045.(*Dani)













