Anambasnews.com – Akses yang terbatas membuat warga di sejumlah desa sangat terpencil di Kabupaten Kepulauan Anambas kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Tanpa transportasi rutin, masyarakat harus menempuh perjalanan jauh atau membayar biaya sewa kapal (carter) yang mahal untuk mencapai fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut akhirnya teratasi melalui program Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) yang menyasar langsung wilayah-wilayah tersebut. Dalam kegiatan yang digelar, sebanyak 845 warga mendapatkan layanan pengobatan gratis.
Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Anambas, Muswandar, mengatakan PKB diprioritaskan untuk desa yang sulit dijangkau. “Pelayanan kesehatan bergerak ini difokuskan ke desa dengan kriteria sangat terpencil,” ujarnya pada Jumat, 12 Desember 2025.
Ia menyebutkan tiga desa yang menjadi target, Desa Kiabu (Kecamatan Siantan Selatan), Desa Munjan (Kecamatan Siantan Timur), dan Desa Bayat (Kecamatan Siantan Utara).
Tim kesehatan membawa sebanyak 14 jenis layanan, antara lain pemeriksaan gula darah, golongan darah, asam urat, kolesterol, serta konsultasi dengan dokter umum. Selain itu, juga dihadirkan dokter spesialis bedah, anestesi, kandungan, dan penyakit dalam, serta pemeriksaan skrining Tuberkulosis (TB) untuk deteksi dini.
Menurut Muswandar, keberadaan dokter spesialis merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa dipenuhi oleh Puskesmas setempat. “Pelayanan ini, terutama dokter spesialis dan penyakit dalam, tidak ada di Puskesmas sana. Jika ingin berobat, masyarakat harus pergi ke RSUD,” jelasnya.
Ia menambahkan, jauhnya akses ke RSUD membuat banyak warga menunda pengobatan. Dengan adanya PKB, hambatan jarak sementara dapat teratasi. “Masyarakat sangat terbantu dengan kegiatan ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Anambas, Yessy Ariessandy, menjelaskan program ini dilakukan untuk pemerataan layanan kesehatan. “Pelayanan kesehatan bergerak ini merupakan langkah pemerataan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Yessy menegaskan bahwa keterbatasan akses menjadi masalah utama daerah-daerah terpencil. “Permasalahan utama yang dihadapi adalah akses yang terbatas, terutama bagi daerah terpencil dan sangat terpencil,” katanya.
Letak geografis Anambas yang tersebar di pulau-pulau kecil membuat sebagian wilayah sulit dijangkau, kondisi yang diperparah dengan minimnya sarana transportasi. “Tidak ada transportasi rutin membuat masyarakat susah datang berobat,” tegas Yessy.
Menurutnya, biaya transportasi alternatif juga tidak terjangkau bagi sebagian besar warga. “Karena biaya carter mahal, maka kami berikhtiar menjalankan program ini,” ujarnya.
PKB disebut sebagai langkah darurat untuk menjangkau wilayah yang belum terlayani optimal. Dengan layanan langsung ke desa, masyarakat tidak perlu lagi menunggu akses transportasi yang memadai.
Dinkes Anambas berharap program ini dapat terus berjalan agar seluruh warga, termasuk yang tinggal di desa sangat terpencil, tetap mendapatkan hak yang sama dalam pelayanan kesehatan.(*Julianto)













