Bintan, Anambasnews.com — Pagi ini, gerimis halus menyelimuti jalanan Kijang, Kabupaten Bintan, Selasa, 25 November 2025. Angin kencang menggoyang kabel di tiang-tiang listrik yang mulai dimakan karat seolah mengingatkan bahwa di wilayah pesisir, waktu dan laut adalah dua kekuatan yang tak pernah berhenti menguji manusia.
Di sebuah kedai kopi sederhana, Pak Gede (57), Ketua RT 006/RW 013 Kijang Kota, yang juga berprofesi sebagai nelayan, duduk diam di sudut ruangan sedari tadi menunggu saya dan Pak Jardin Perisai BPJS Ketenagakerjaan datang untuk berbagi cerita. Secangkir kopi hitam mengepul di hadapannya. Jemarinya bergetar saat mengangkat cangkir, bukan karena dingin, melainkan oleh kisah yang masih berat untuk ia ceritakan.
Belum genap setahun berlalu sejak warganya, Miska (50), meninggal dunia saat melaut. Namun bagi Pak Gede, luka itu masih terasa dekat.
“Kami tak sangka… laut itu kadang tak memberi waktu untuk menghindar,” ucapnya pelan, menundukkan pandangan. Suaranya bergetar, seolah duka itu kembali hadir bersama aroma kopi di pagi itu.
Duka yang Mengajar: Ketika Iuran Kecil Menjadi Penolong Besar
Miska bukan sekadar warga bagi Pak Gede. Mereka berbagi suka-duka sebagai sesama nelayan: berbagi roti ikan, saling memberi hasil tangkapan ketika salah satu sedang sepi rezeki.
Hidup di laut adalah hidup dalam kebersamaan. Tak ada yang menduga bahwa iuran BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp16.800 per bulan yang dibayarkan oleh tauke tempat almarhum bekerja menjadi penyambung hidup keluarganya setelah tragedi itu.
“Santunan kematiannya hampir Rp42 juta… siapa yang sangka iuran sekecil itu bisa selamatkan masa depan anak-anaknya?” tutur Marwan, tetangga sekaligus sahabat almarhum.
Pak Gede juga menceritakan bagaimana proses klaim berjalan cepat setelah berkas dilengkapi.
Dengan pendampingan Pak Jardin, Perisai BPJS Ketenagakerjaan, semua proses dapat diselesaikan tanpa hambatan.
“Hanya 10 hari santunan sudah masuk ke rekening ahli waris,” kata Pak Gede. “Bagi keluarga yang berduka, itu terasa seperti uluran tangan yang tak ternilai.”
Sejak kejadian itu, Pak Gede tak menunggu lama. Ia sendiri mendaftar sebagai peserta. Baginya, laut memang memberi makan tetapi BPJS Ketenagakerjaan memberi kepastian bagi orang yang menunggu di rumah.

Saat Pemerintah Menjadi Sandaran Terakhir Nelayan
Di balik kisah-kisah personal seperti Pak Gede dan Miska, yang dengan sukarela membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan secara mandiri ada upaya besar yang dikerjakan sunyi oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Hingga tahun 2024, sebanyak 31.556 nelayan di seluruh Kepri terlindungi oleh Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Seluruh iuran mereka disubsidi penuh oleh Pemprov Kepri.
Angka itu tidak sekadar statistik. Setiap angka adalah sebuah keluarga yang kini punya pegangan. Rinciannya: Bintan: 4.435 nelayan, Karimun: 5.535 nelayan, Lingga: 9.775 nelayan, Kepulauan Anambas: 4.339 nelayan, Natuna:, 4.187 nelayan, Batam: 2.082 nelayan, dan Tanjungpinang: 1.203 nelayan.
Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, menyebut perlindungan ini sebagai langkah strategis menjaga ketahanan keluarga nelayan.
“Laut Kepri ini luas dan pulaunya banyak. Nelayan tiap hari berhadapan dengan ombak dan badai. Dengan perlindungan ini, setidaknya ada jaminan jika terjadi sesuatu di tengah laut,” ujar Ansar saat menyalurkan santunan BPJS Ketenagakerjaan di Bintan, Senin, 12 Agustus 2024 lalu.
Tak hanya itu, jika nelayan meninggal di rumah atau rumah sakit, keluarga menerima santunan Rp42 juta dan dua anaknya disekolahkan hingga jenjang S1.
“Nelayan sangat membutuhkan ini, dan Pemerintah hadir untuk mereka,” tegasnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepri, Said Sudrajat, mengatakan pada 2025 dialokasikan anggaran sebesar Rp7,138 miliar untuk perlindungan BPJS TK bagi 35.407 rumah tangga nelayan. Anggaran ini lanjutnya, lebih besar daripada tahun 2024 yang sebesar Rp6,361 miliar.
Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Tanjungpinang, Iwan Kurniawan, saat mendampingi kunjungan Komisi IX DPR RI di Kota Tanjungpinang pada Senin, 24 November 2025, menyampaikan bahwa pihaknya terus memperkuat perlindungan jaminan sosial bagi pekerja di wilayah Tanjungpinang, Bintan, Anambas, Natuna, dan Lingga. Ia menegaskan bahwa perluasan cakupan perlindungan menjadi prioritas utama BPJS Ketenagakerjaan.
“Fokus kami adalah memastikan setiap pekerja mendapatkan perlindungan yang layak, baik di sektor formal maupun informal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sepanjang Semester I 2025, BPJS Ketenagakerjaan Tanjungpinang telah menyalurkan klaim sebesar Rp67,3 miliar untuk berbagai program perlindungan sosial pekerja.
Adapun rinciannya meliputi penyaluran Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar Rp51 miliar untuk 4.857 peserta; Jaminan Kematian (JKM) Rp8,2 miliar untuk 320 peserta; Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Rp5,1 miliar untuk 984 kasus; Jaminan Pensiun (JP) Rp1,1 miliar untuk 74 peserta; serta Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) Rp1,9 miliar untuk 858 pekerja yang mengalami PHK.
Ia juga mengatakan bahwa BPJS Ketenagakerjaan memberikan beasiswa kepada 154 anak peserta yang meninggal dunia atau mengalami cacat total akibat kecelakaan kerja, dengan dukungan pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
“Beasiswa ini bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga jaminan bahwa masa depan anak-anak peserta tetap terjaga meski orang tuanya mengalami musibah,” jelasnya.
Menurutnya, perlindungan yang komprehensif membuat pekerja tidak menjadi beban pemerintah ketika mengalami musibah.
“Santunan bisa menjadi modal usaha, sementara beasiswa memastikan keberlanjutan pendidikan anak,” tegasnya.
Ketika Laut Tak Menjamin Pulang, Perlindungan Menjadi Jangkar Terakhir
Laut adalah sahabat, namun juga lawan yang tidak bisa ditebak. Cuaca bisa berubah dalam hitungan detik. Ombak bisa tiba-tiba meninggi. Sebuah kesalahan kecil bisa merenggut nyawa.
Kini ribuan nelayan di Kepulauan Riau melaut dengan harapan baru. Mereka tahu bahwa jika suatu hari mereka tak kembali, keluarga mereka tetap memiliki pijakan untuk bertahan.
“Kalau hari ini kita pulang selamat, itu rezeki. Kalau tidak… setidaknya keluarga tak tinggal menanggung beban,” kata Pak Gede.
Di laut Bintan, harapan kini tidak lagi semata-mata digantungkan pada angin dan ombak. Ada jaminan, ada perlindungan, dan ada ikhtiar bersama untuk saling menjaga. Sebab setiap nelayan yang berangkat melaut, membawa doa dari keluarga dan kini juga perlindungan yang menyertai.(*Dani)













