Bintan, Anambasnews.com — Hujan masih turun gerimis saat kami tiba di rumah sederhana bercat merah pucat di Batu 18, Jalan Musi, Kota Tanjungpinang, Sabtu, 22 November 2025 sore. Di ruang tamu, Sunarti Samin (48) seorang perempuan duduk menunduk sambil merapikan map berwarna hijau dan menunjukan album foto.
Dalam album foto tersusun foto keluarga salah satunya Almarhum Wawan Setiawan yang meninggalkan dia dan 4 orang anak, menjadi salah satu korban longsor yang melanda Desa Pangkalan Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau pada 6 Maret 2023 lalu.
Jemarinya gemetar setiap kali menyentuh lembaran dokumen yang di dalamnya tersimpan sertifikat santunan dari BPJS Ketenagakerjaan.
Map itu, katanya, menjadi satu-satunya peninggalan yang mampu menjaga keluarganya tetap berdiri sejak suaminya Wawan Setiawan Kepala Desa yang baru dua bulan dilantik tepatnya pasa Rabu, 18 Januari 2023 menjadi korban longsor besar tersebut.
Hampir tiga tahun berlalu trauma masih terlihat membekas diwajah Sunarti, sambil beberapa kali kami mengucapkan maaf, saat kami meminta ia menceritakan kejadian yang telah merenggut sang suami sosok yang penuh dedikasi dan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat itu.
Dengan terbata-bata ia berusaha menceritakan longsor itu datang saat hujan yang turun dalam beberapa hari kebelakang mengguyur Serasan sebuah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia sebelah timur. Wawan sapaan akrab Kepala Desa Pangkalan saat itu sedang gotong royong membersihkan sisa-sisa longsoran pertama.

Siang menjelang petang, tanah perbukitan tiba-tiba bergeser. Tanpa suara, tanpa tanda. Sang Kades tersapu bersama puing-puing dan suara jeritan warga yang tak sempat menyelamatkan diri.
“Waktu itu saya hampir tak percaya, Almarhum begitu cepat meninggalkan kami, apalagi anak-anaknya masih membutuhkan biaya pendidikan, demi masa depan mereka,” ucap sang istri pelan, wajahnya menegang menahan air mata.
Suaminya baru dua bulan memimpin Desa Pangkalan. Baru satu kali membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan. Tidak banyak orang menganggap iuran itu penting. Namun bagi keluarganya, dua kali iuran itulah yang kini menjadi pelindung hidup.
Melalui program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian, BPJS Ketenagakerjaan ia menerima santunan dengan total Rp358,5 Juta lebih. Iuran kecil yang hanya dibayar satu kali itu berubah menjadi warisan paling berarti bagi keempat anaknya Febby Felsetia, Yoga Prasetia, keduanya saat ini memilih bekerja membantu perekonomian keluarga dan Tiara Tri Setia dan Adri Febrian Setia yang masih duduk di bangku kelas 2 SMK dan kelas 1 SMP.
“Kami tidak pernah menyangka santunan ini akan kami terima setelah dia baru satu kali membayar iuran kalau tak salah. Waktu itu dia cuma bilang, ‘Kalau kita bekerja untuk masyarakat, kita juga harus melindungi keluarga.’ Saya kira itu hanya formalitas,” katanya sambil memegang map dengan lebih erat.
Kini, sebagian dana santunan digunakan untuk biaya sekolah anak-anak almarhum. Satunya berencana kuliah dua tahun kedepan. Sebagian lain ia pakai untuk membuka usaha kecil di Tanjungpinang tempat yang jauh dari Serasan, bersama anak-anak dan ibunya yang sering sakit-sakitan dimakan usia seolah ia berusaha mengubur kedukaan itu lebih dalam. Usaha sederhana itu, katanya, ikhtiar untuk menyambung penghidupan yang dulu menjadi tanggung jawab suaminya.

“Ini bukan hanya bantuan, tapi amanah terakhir dari bapaknya, beasiswa memang kami siapkan untuk anak ketiga dan keempat kami,” ucapnya sambil mengusap matanya.
Semasa hidup, almarhum dikenal sederhana. Ia sering menyusuri gang-gang kecil desa untuk menengok warga, bahkan sebelum resmi dilantik. Ia juga pernah mengatakan bahwa perangkat desa harus terlindungi layaknya pekerja lainnya.
Sebelumnya, banyak yang menganggap perlindungan sosial hanya urusan administrasi. Namun justru ia membuktikan maknanya setelah tiada: perlindungan kerja bukan untuk hari ini, tetapi untuk hari ketika risiko benar-benar datang.
Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan ini menjadi pengingat bahwa iuran kecil bisa menyelamatkan masa depan keluarga. Bagi pekerja non-formal, perangkat desa, nelayan, petani, dan siapa pun yang bekerja dengan risiko, pelajarannya jelas: Tidak ada yang tahu kapan bahaya datang. Tapi setiap orang bisa memilih untuk siap.
Di Desa Pangkalan, seorang Kepala Desa kini beristirahat dengan tenang bersama 35 korban longsor lainnya yang dikuburkan secara massal di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Hilir Serasan. Ia tak sempat menyelesaikan rencana membangun desanya.
Namun ia meninggalkan sebuah warisan perlindungan yang terus menjaga keluarga yang ia cintai. Dua bulan menjabat. Satu kali membayar iuran. Dua kali lebih berarti untuk masa depan keluarganya.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, saat bencana longsor di Serasan dari 54 korban meninggal dunia yang sudah berhasil diidentifikasi maupun yang masih belum ditemukan saat itu, terdapat 5 orang peserta aktif dari BPJS ketenagakerjaan (1 orang PTT Satuan Pamong Praja Kabupaten Natuna, satu orang PTT Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna, sedangkan 3 orang dari perangkat Desa Pangkalan).
Adapun jumlah total santunan yang diserahkan kepada kelima peserta BPJS Ketenagakerjaan tersebut adalah sebesar Rp1.2 milyar, khususnya bagi para korban yang merupakan peserta BPJS ketenagakerjaan yang sedang menjalankan tugas.(*Dani)













